Tidak Ada Kata Terlambat Merayakan Kemerdekaan RI

Agen Casino

Tidak Ada Kata Terlambat Merayakan Kemerdekaan RI – Tidak ada kata terlambat untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan RI. Seperti yang dikerjakan beberapa pemuda di Kabupaten Kediri ini. Sambil rayakan kemerdekaan, mereka juga menghidupkan kembali kesenian sepak bola api.

Sesudah berdoa bersama dengan, 1 buah kelapa yang sudah di rendam minyak tanah ditempatkan di dalam lapangan untuk lalu dibakar serta siap diperebutkan beberapa pemain. Dua team yang mainkan sepak bola api semasing terdiri atas 5 orang.

Dengan bertelanjang kaki, beberapa pemuda ini lalu sama-sama berebutan buah kelapa yang sudah dibakar, seakan berebutan bola sepak yang biasa dimainkan di lapangan sepak bola.

Beberapa pemuda yang ikut serta dalam permainan ini sebetulnya ialah beberapa santri di Pondok Pesantren Al Maruf. Menurut KH Hafid, tokoh agama serta sesepuh Dusun Juranguluh, Desa Kedawung, ia terasa bersukur dengan apakah yang dikerjakan oleh beberapa pemuda serta santri Pondok Pesantren Al Maruf karena masih tetap ingin melestarikan budaya kesenian sepak bola api.

” Dahulu sudah sempat berhenti, kesenian jenis ini tidak tahu karena apakah, akan tetapi InsyaAllah mulai tahun ini sepak bola api kembali digiatkan oleh pemuda serta santri, ” tuturnya pada detikcom, Minggu (2/9/2018) malam.

Seirama dengan KH Hafid, Nur Chafid Mansyur, pengasuh Pondok pesantren Al Maruf mengakui sejak dahulu ponpesnya memang mempunyai kekhususan, utamanya dalam soal olah batin serta potensi.

Dapat dibuktikan walau sepak bola api telah jarang dimainkan akan tetapi pemuda serta santri Pondok pesantren Al maruf masih tetap berani serta masih melestarikan kesenian sepak bola api karena jadi kebiasaan serta sisi dari Pondok pesantren Al Maruf.

” Berikut kekhususan Santri Pondok pesantren Al Maruf, bahkan juga dahulu pondok pesantren ini seringkali dimaksud dengan pondok gemblengan, karena olah batin serta fisik dan ajaran agamanya, ” terangnya.

Buat pemuda Dusun Juranguluh sendiri, sepak bola api tidak cuma satu kesenian budaya serta berolahraga, akan tetapi juga sudah jadi salah satunya langkah mempersatukan bangsa.

Indra (25) misalnya, salah satunya pemuda yang mempelopori serta menggerakkan pemuda desa serta santri mengadakan kesenian sepak bola api mengakui bangga serta suka jadi sisi histori karena melestarikan sepak bola api.

Ia tidak gentar walau ada beberapa luka pada kaki serta lututnya karena terjatuh serta terbentur kaki lawan. Menurut dia, itu karena doa beberapa kiai serta persiapan yang mereka kerjakan semenjak jauh-jauh hari.

” Saya suka serta bangga jadi sisi dari sepak bola api ini, karena turut melestarikan budaya serta kesenian bangsa, ditambah lagi dahulu pondok pesantren ini sudah jadi saksi histori perjuangan bangsa, ” tegas Indra.